Minggu, 23 November 2014

Senyumanmu

Sebuah desa yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Desa yang tidak tahu mengenai diriku. Disini aku dan Aryo berjanji akan banyak hal. Hari ini hari pertama aku mulai bersekolah di desa ini. Aku berangkat pagi-pagi sekali. Di tengah perjalanan aku mulai kehilangan kesadaran. Dan disaat itulah Aryo menemukanku.
“Gadis itu sedang apa? Duduk sendirian di jalanan.” Ucap Aryo dari kejauhan sambil mengahampiriku.
“Wahh gawat!! Anak ini pingsan. Aku harus membawanya ke rumahku.” Ucap Aryo dengan panik sambil menggendongku.
Sesampainya di rumah Aryo…
“Ma..Mamaa..Mama…!! Ada orang terduduk didekat rumah dan tidak sadarkan diri.” Teriak Aryo.
“Apa?! Sini baringkan dia di tempat  tidur.” Jawab mama.
“Gadis ini kulitnya putih sekali ya. Sepertinya dia bukan anak sekitar sini. Tapi dia memakai seragam yang sama denganmu Yo. Atau jangan-jangan dia anak dari kenalanku dulu?” Ucap papa Aryo bingung.
“Ah…yang beberapa hari lalu baru kembali dari Jakarta itu ya? Sudah 8 tahun tidak berjumpa ya. Kita coba hubungi mereka ya pa.” Sahut mama.
Aku mendengar sebuah percakapan disekitarku, hingga aku terbangun dikejutkan oleh wajah-wajah yang tidak kukenal dan ruangan yang asing.
“Wah untunglah kau sudah sadar ya. Kamu tidak apa-apa?” Tanya mama Aryo.
“Ah iya aku sudah tidak apa-apa. Hari ini hari pertama aku masuk ke sekolah baruku. Aku bermaksud untuk datang lebih pagi dan berkeliling di sekolah, tapi malah jadi merepotkan kalian. Terima kasih sudah menolongku. Oiya aku lupa memperkenalkan diri, namaku Elin. Senang bisa berkenalan dengan kalian.” Ucapku dengan tersenyum.
Setelah lama berbincang-bincang aku sudah mulai mengenal mereka dengan baik. Ternyata orang tua Aryo adalah kenalan papaku dulu. Dan aku satu sekolah dengan Aryo. Tidak lama kemudian papaku datang menjemputku, dia sangat mengkhawatirkanku sampai tidak mengizinkanku ke sekolah. Tapi aku tetap bersikeras ingin sekolah. Tiba-tiba Aryo menawarkan diri untuk mengantarku ke sekolah dengan sepeda. Akhirnya papa mengizinkanku. Di sepanjang perjalanan aku mengobrol banyak dengan Aryo. Saat kami melewati sungai aku tertarik akan keindahannya karena sungai itu tampak berkilauan. Aryo bilang padaku katanya didalam sungai itu terdapat batu Kristal. Bila berhasil mengumpulkan 7 batu berwarna maka keinginan kita akan terkabul. Aku memercayainya, aku meminta Aryo untuk pergi mencari batu itu. Aryo memutuskan untuk mencarinya dihari libur nanti. Aku jadi tidak sabar. Di desa ini banyak hal yang menyenangkan.
Sesampainya di sekolah aku memperkenalkan diriku, aku berada di kelas yang sama dengan Aryo. Aku duduk bersebelahan dengannya. Saat istirahat aku makan siang bersama teman-teman baruku dan juga Aryo.
“Bekalmu banyak sekali…” Ucap salah satu temanku.
“Soalnya tadi mama terlalu bersemangat menyiapkannya. Bagaimana kalau ini kalian yang makan bersama yang lain? Habis aku tidak lapar. Aku makan coklat ini saja.” Ucapku.
“Hanya coklat? Kamu orangnya unik ya. Aku juga kaget tadi kamu bisa dekat dengan Aryo, padahal kan dia jarang berbicara dengan anak perempuan. pasti karna kamu manis, makanya dia berbicara denganmu. Kulit kamu putih, badan kamu juga kurus, bikin aku iri saja.” Ucap temanku.
“Apanya yang bikin iri? Badan yang terlihat lemah seperti itu, hampir setiap hari anemia, itu kan melelahkan. Kamu harus banyak makan, jadi kamu tidak lemah seperti ini!” Ucap Aryo memarahiku.
Aku kaget, aku tidak menyangka dia akan berkata seperti itu padaku. Aryo berkata padaku bahwa aku selalu terlihat bahagia, tidak ada kekhawatiran, tidak ada yang membuatku gelisah. Lalu aku menceritakan Aryo, bahwa dulu aku pernah mengalami kecelakaan dan melakukan operasi besar. Waktu itu aku berada diantara ambang kematian. Karena itu aku ingin melakukan hal yang benar-benar ingin kulakukan. Kesenangan bagiku merupakan kebahagiaan No.1. Aryo juga cerita padaku saat masih kecil dia pernah diambang kematian, dia tenggelam di kolam renang. Saat mendengar kata kolam renang, aku jadi ingin berenang. Aku meminta Aryo ke kolam renang saat liburan nanti. Jadi janji kami sudah ada 2, pergi mencari batu dan ke kolam renang. Saat kita membuat janji seperti ini, aku menjadi merasa senang sekali, dan tidak sabar menunggu hari esok. Aryo telah memberiku kebahagiaan.
Liburan telah tiba…
            Aku bersama Aryo pergi ke sungai untuk mencari batu. Aku sangat bersemangat sekali mencarinya. Akhirnya aku menemukan sebuah batu yang aku cari, tinggal mengumpulkan 6 batu lagi. Tetapi hari sudah mulai gelap, selain batu yang pertama tadi, kami masih belum menemukan batu yang lainnya. Aryo mengajakku pulang, tapi aku masih ingin mencari batu itu. Tiba-tiba papaku datang menyuruhku pulang. Aku belum mau pulang, aku bilang pada papa kalau aku ingin mengumpulkan 7 batu yang bisa mengabulkan sebuah permohonan. Papa tidak mempercayaiku, kemudian Aryo membelaku dengan  mengatakan bahwa itu benar. Tak lama setelah itu aku pingsan, papa membawaku ke rumah sakit.
Saat aku keluar dari rumah sakit aku mengajak Aryo untuk mengumpulkan batu itu lagi. Tetapi Aryo malah memarahiku, dia sangat mengkhawatirkanku, tidak mau aku kelelahan dan pingsan lagi. Aryo bilang padaku bahwa cerita itu bohong, tapi aku ingin permohonanku terkabul. Aryo berusaha untuk mewujudkan keinginanku, dia ingin aku mengatakan apa keinginanku. Dia berjanji padaku. Aku hanya terdiam.
“Aryo, aku punya permohonan yang tidak bisa kukatakan pada siapapun. Sebab kalaupun aku mengatakannya pasti tidak akan terkabul. Kalau kamu mengetahuinya pasti aku akan menyusahkanmu. Aku senang sekali terhadap perasaan tulus Aryo padaku membuatku ingin berteriak senang. Aryo.. Hidupku hanya tinggal 3 bulan saja.” Dalam hatiku.
            Saat aku melihat senyum Aryo, aku merasa tenang. Pada saat itu aku tidak bisa berjanji dengannya. Aryo sudah berusaha keras pergi mencari batu itu sendirian agar aku bisa melakukan permohonan. Aryo sudah berhasil mengumpulkan 6 batu. Perasaan Aryo yang tulus itu membuatku senang, senang sekali.. padahal aku ingin menerima perasaaan tulus Aryo. Sungguh menyakitkan, kenapa hidupku hanya tinggal 3 bulan.
Sebulan sudah berlalu sejak saat itu. Aryo sudah berhasil mengumpulkan 6 batu. Aku selalu menghabiskan waktu bersama Aryo. Seandainya bisa selalu bersama Aryo, selalu tertawa bersama seperti ini, pasti akan menyenangkan sekali. Aku ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang Aryo. Aku teringat Aryo mengatakan tentang 7 batu yang bisa mewujudkan permohonan. Aku pergi mencarinya sendiri. Hal itu, bohong atau tidak aku tidak peduli. Aku sangat senang sekali saat Aryo ingin mewujudkan keinginanku. Tetapi aku tidak bisa mengatakan keinginanku kepada Aryo kalau aku tidak ingin mati. Tinggal 1 batu lagi, tinggal 1 lagi maka keinginanku akan terwujud. Aku ingin percaya itu. Dengan begitu aku bisa berada disisi Aryo. Lagi-lagi aku masuk rumah sakit, aku keluar dari rumah sakit sebentar untuk pergi ke rumah Aryo menemuinya. Aku mencoba untuk tersenyum didepannya. Aku datang untuk mengucapkan perpisahan, aku bilang pada Aryo kalau papa harus pindah tugas lagi. Dan kami harus kembali ke Jakarta. Aryo yang terlihat seperti anak kecil, wajahnya yang memerah seperti itu membuatku merasa bahagia. Seakan-akan mengatakan kalau dia tidak suka kalau aku tidak didekatnya. Aku jadi tidak bisa menahan air mataku yang keluar begitu saja. Aku tidak mau berpisah seperti ini.
“Aku mohon Aryo apapun yang aku katakan kamu harus tetap tersenyum.” Ucapku tersedu-sedu.
“Iya aku akan tersenyum kok. Apapun yang aku dengar aku pasti akan tetap tersenyum, aku janji.” Ucap Aryo sambil tersenyum.
“Sebelumnya aku pernah cerita kalau aku pernah mengalami kecelakaan, apa kamu ingat? Kejadiannya saat aku kelas 2 smp. Luka-luka di luar bisa disembuhkan dengan operasi dan rehabilitasi yang lama. Tapi karena terjadi kelainan pada system kekebalan tubuhku, kemampuan hatiku menangkal racun jadi menurun. Dokter mengatakan padaku kalau hidupku sudah tidak lama lagi. Sebenarnya aku bukannya pindah, tapi sebenarnya aku harus dirawat di rumah sakit.” Ucapku dengan menundukkan wajah.
Tiba-tiba Aryo langsung memelukku erat. Dia bilang kalau dia ingin terus selalu bersamaku, melakukan semua hal bersamaku. Dia ingin aku berjanji padanya. Sekarang aku harus segera kembali ke rumah sakit, Aryo mengantarkanku. Dia bilang kalau dia ingin menjengukku setiap hari. Aku sangat senang sekali, aku ingin selalu membuat Aryo tersenyum, karena hanya dengan melihat senyumannya membuatku merasa senang dan selalu ingin tersenyum.
Keesokan harinya Aryo memberikanku ketujuh batu yang kuinginkan, Aryo berhasil mengumpulkannya dan karena itu juga dia jadi sakit. Sejak pertama kali kami bertemu, dia memperlakukanku dengan lembut, dia juga memarahiku. Tetapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Itu membuatku sedih.
Sudah beberapa hari ini Aryo tidak datang mengunjungiku, aku jadi khawatir, ingin sekali menemuinya. Aku memohon kepada papa untuk ke rumah Aryo. Sesampainya di rumah Aryo aku langsung berlari menemuinya, memeluknya dengan erat dan berterima kasih mengenai batu itu.
“Aryo kamu harus selalu sehat ya, selalu tersenyum, karena aku sangat suka sekali dengan senyumanmu itu Aryo, kamu harus berjanji ya.”
Permohonanku sekarang adalah semoga Aryo selalu hidup bahagia.

Sebulan kemudian Elin meninggalkan kami semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar