Industri pasar modal Indonesia
merayakan diaktifkannya kembali pasar modal yang sudah berjalan selama
38 tahun. Perayaan kembali diaktifkannya pasar modal Indonesia pada
Senin 10 Agustus 2015 ini berbeda dari tahun sebelumnya.
Kini otoritas bursa dipimpin oleh susunan direksi baru periode
2015-2018. Tito Sulistio resmi menjadi Direktur Utama PT Bursa Efek
Indonesia (BEI) menggantikan Ito Warsito yang diputuskan dalam Rapat
Umum Pemegang Saham pada Kamis 25 Juni 2015.
Saat pengangkatannya tersebut, Tito mengatakan sejumlah ambisi untuk
membawa pasar modal Indonesia menjadi lebih baik ke depan. Ia
mengharapkan pasar modal Indonesia dapat mengalahkan bursa saham
Thailand terutama soal transaksi harian saham. Saat ini rata-rata
transaksi harian saham di BEI pada 2015 sekitar Rp 6,03 triliun.
Untuk mencapai target itu, Tito menuturkan, pihaknya ingin
meningkatkan kepercayaan investor di pasar modal, mendorong emiten
berkualitas untuk masuk ke pasar modal Indonesia, dan menjadikan bursa
saham lebih efisien.
Gebrakannya memang cukup cepat. Otoritas bursa menaikkan jumlah dana
perlindungan investor dari Rp 25 juta menjadi Rp 100 juta. Ketua Komite
Umum Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Susy Meilina menuturkan,
kenaikan dana perlindungan investor itu positif untuk pasar modal
Indonesia sehingga mendorong kepercayaan investor berinvestasi di pasar
modal.
"Adanya moral hazard dilakukan satu dua orang di pasar modal
pengaruhi industri. Karena itu, dengan ada kartu AKSES, ada dana
perlindungan investor membuat kepercayaan investor di pasar modal," ujar
Susy.
Ia menambahkan, jumlah investor saat ini memang masih berkutat di
angka 400 ribu. Padahal jumlah investor ritel terutama lokal mesti
diperbanyak untuk menjaga pasar modal Indonesia. Jumlah investor pasar
modal Indonesia masih minim memang selalu menjadi masalah klasik.
Otoritas bursa pun gencar melakukan sosialisasi dan edukasi soal pasar
modal. Bahkan menggelar program edukasi Gerakan Cinta Pasar Modal
Indonesia pada tahun lalu.
Tak hanya meningkatkan jumlah investor, otoritas bursa juga perlu
bersiap-siap hadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Susy mengatakan,
regulator dan otoritas bursa juga mesti melindungi para pelaku pasar
modal termasuk perusahaan sekuritas untuk hadapi MEA di depan mata.
Dengan ada MEA akan membuat sejumlah perusahaan sekuritas asing dapat
mudah menawarkan produk di Indonesia, dan mendorong perusahaan Indonesia
untuk mencatatkan saham di pasar modal negara lain.
"Pasar modal Indonesia seharusnya dapat perlindungan dari regulator.
Perusahaan asing akan sangat agresif saat MEA untuk masuk ke pasar
Indonesia apalagi pasarnya besar. Saat MEA perusahaan asing dapat
sosialisasikan emiten listing di negara lain. Karena itu perlu ada azas
resiprokal," kata Susy.
Di tengah tantangan dan ambisi tersebut, saat perayaan diaktifkannya
kembali pasar modal Indonesia, kondisi kinerja Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) cenderung tertekan. Kinerja IHSG minus 8,74 persen
secara year to date menjadi 4.770,30 pada penutupan perdagangan
saham Jumat 7 Agustus 2015. Posisi kinerja IHSG pun berada di urutan ke
13 dari indeks saham acuan global. Posisi Indonesia di bawah Singapura,
yang indeks sahamnya turun 5,01 persen.
Tak hanya kinerja IHSG turun, total aliran dana investor asing pun
cenderung keluar dari pasar modal Indonesia. Secara year to date, aliran
dana investor asing tinggal Rp 2,96 triliun pada Jumat pekan lalu.
Padahal pada 2014, aliran dana investor asing sempat mencapai Rp 57
triliun. Kapitalisasi pasar saham BEI pun turun menjadi Rp 4.932 triliun
pada Jumat 7 Agustus 2015 ketimbang Januari 2015 di kisaran Rp 5.287
triliun.
"Kinerja IHSG turun tidak terlepas dari hasil kinerja emiten tidak
terlalu bagus. Hal itu lantaran pertumbuhan ekonomi melambat. Karena
itu, pemerintah dapat memperbaiki fundamental ekonomi dulu. Memang perlu
banyak pembenahan," kata Susy. (Ahm/Gdn)