Ada
sepasang suami istri yang bernama Galih dan Ratna, mereka sudah menikah selama
5 tahun tapi belum juga dikaruniai seorang anak karena kesibukan mereka
mengurus usaha keluarga. Bisa dibilang suami istri ini hubungannya tidak akur
karena sering terjadi pertengkaran, sebabnya pun sama setiap hari yaitu karena
keduanya jarang bertemu dan tidak ada waktu luang untuk berbagi kasih sayang.
Jika sedang bertengkar Ratna selalu curhat kepada Ibunya, dia meminta nasihat
dan saran bagaimana caranya agar bisa akur lagi dengan suaminya.
Pada suatu hari Ibu dari Ratna yang tinggal di
Surabaya jatuh sakit, lalu mereka berdua memutuskan untuk meninggalkan
pekerjaan mereka demi merawat Ibunya Ratna.
Sesampainya
mereka disana, ternyata tidak ada satupun dari keluarganya yang datang
menjenguk, Ratna dalam hatinya menangis karna hal ini. Mereka berdua pun masuk
kedalam dan mereka hanya melihat Bapak Ratna bersama beberapa tetangga sedang
merawat Ibunya.
“Pak kenapa tidak ada keluarga yang datang?” Ucap Ratna dengan sedih.
“Bapak sudah mencoba menelefon kakak dan adik mu tapi tidak satupun yang diangkat, mungkin mereka sibuk dengan pekerjaannya”, sahut Bapaknya Ratna. ( Ratna mempunyai kakak yang bernama Ratno dan adik yang bernama Ratni ).
“Kenapa bapak tidak mencoba menelefonnya lagi?”. Tanya Galih
“Bapak tidak mau mengganggu mereka karena hal seperti ini doang lih”. Ucap bapak Ratna.
“Pak kenapa tidak ada keluarga yang datang?” Ucap Ratna dengan sedih.
“Bapak sudah mencoba menelefon kakak dan adik mu tapi tidak satupun yang diangkat, mungkin mereka sibuk dengan pekerjaannya”, sahut Bapaknya Ratna. ( Ratna mempunyai kakak yang bernama Ratno dan adik yang bernama Ratni ).
“Kenapa bapak tidak mencoba menelefonnya lagi?”. Tanya Galih
“Bapak tidak mau mengganggu mereka karena hal seperti ini doang lih”. Ucap bapak Ratna.
Kondisi
Ibunya Ratna saat itu pun bisa dibilang dalam keadaan yang parah, karena Ibunya
Ratna menderita penyakit komplikasi.
“kenapa tidak dibawa ke dokter pak?” Ucap Ratna dengan bingung.
“Ini bukan kemauan Bapak tapi kemauan Ibumu sendiri. Dia tidak mau dibawa ke rumah sakit, bapak juga tidak tau alasannya.” Ucap si Bapak.
“Ratna tidak mau tau pak pokonya Ibu harus dibawa ke rumah sakit! Ratna telfon ambulan sekarang”. Ucap Ratna sambil menelvon rumah sakit.
“Iya pak, Ibu harus dibawa ke rumah sakit agar kondisinya membaik”. Ucap Galih meyakinkan Bapak Ratna.
“Yasudah kalau begitu.” Jawab bapak Ratna.
“kenapa tidak dibawa ke dokter pak?” Ucap Ratna dengan bingung.
“Ini bukan kemauan Bapak tapi kemauan Ibumu sendiri. Dia tidak mau dibawa ke rumah sakit, bapak juga tidak tau alasannya.” Ucap si Bapak.
“Ratna tidak mau tau pak pokonya Ibu harus dibawa ke rumah sakit! Ratna telfon ambulan sekarang”. Ucap Ratna sambil menelvon rumah sakit.
“Iya pak, Ibu harus dibawa ke rumah sakit agar kondisinya membaik”. Ucap Galih meyakinkan Bapak Ratna.
“Yasudah kalau begitu.” Jawab bapak Ratna.
Beberapa
saat kemudian ambulance datang dan langsung membawa sang Ibu ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit dokter menyarankan Ratna untuk memasukkan Ibunya di
ruang ICU, Ratna pun menyetujuinya. Tiba-tiba sesaat setelah beberapa jam
dirawat di ruang ICU Ibunya pun sadar dan memanggil-manggil nama Ratna.
“Ratna, Ratna, Ratna.” Ucap ibu Ratna sambil merintih.
Ratna yang saat itu tidur ditemani Bapaknya kaget karna melihat Ibunya sadar.
“Ibu? Alhamdulillah Ibu sudah sadar”, ucap Ratna sambil meneteskan air mata.
“Iya nak ibu sudah sadar tapi cuma sebentar setelah itu Ibu juga pergi lagi, oh iya kemana Galih?” Ucap ibu Ratna dengan tersenyum.
“Ibu ini bicara apa sih? Sudah Ibu jangan banyak bicara dulu biar kondisi Ibu baikan, Galih pulang bu untuk mengurus pekerjaannya selama beberapa hari’’. Ucap Galih
“Sebelum Ibu pergi lagi Ibu berpesan sama kamu, Ibu ingin seorang cucu dari kamu nak.”
“Ibu ini bicara apa sih? Tapi bu Ratna sama Galih kan sibuk sama pekerjaan kami masing-masing.”
‘’Ini permintaan terakhir ibu nak, ibu tidak ingin kalian menyesal nantinya bila terlalu sibuk dengan pekerjaan kalian, karna harta yang paling berharga itu adalah keluarga bukan materi. Tolong ingat pesan ibu baik-baik nak….’’
Sebelum selesai melanjutkan pembicaraan, sang ibu telah menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir kalinya. Pada saat itu Ratna memanggil-manggil nama ibunya dengan isak tangis.
“Ratna, Ratna, Ratna.” Ucap ibu Ratna sambil merintih.
Ratna yang saat itu tidur ditemani Bapaknya kaget karna melihat Ibunya sadar.
“Ibu? Alhamdulillah Ibu sudah sadar”, ucap Ratna sambil meneteskan air mata.
“Iya nak ibu sudah sadar tapi cuma sebentar setelah itu Ibu juga pergi lagi, oh iya kemana Galih?” Ucap ibu Ratna dengan tersenyum.
“Ibu ini bicara apa sih? Sudah Ibu jangan banyak bicara dulu biar kondisi Ibu baikan, Galih pulang bu untuk mengurus pekerjaannya selama beberapa hari’’. Ucap Galih
“Sebelum Ibu pergi lagi Ibu berpesan sama kamu, Ibu ingin seorang cucu dari kamu nak.”
“Ibu ini bicara apa sih? Tapi bu Ratna sama Galih kan sibuk sama pekerjaan kami masing-masing.”
‘’Ini permintaan terakhir ibu nak, ibu tidak ingin kalian menyesal nantinya bila terlalu sibuk dengan pekerjaan kalian, karna harta yang paling berharga itu adalah keluarga bukan materi. Tolong ingat pesan ibu baik-baik nak….’’
Sebelum selesai melanjutkan pembicaraan, sang ibu telah menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir kalinya. Pada saat itu Ratna memanggil-manggil nama ibunya dengan isak tangis.
Beberapa
hari telah berlalu setelah pemakaman Ibunya, Ratna merasa belum rela Ibunya
pergi, tapi Galih terus member semangat dan motivasi agar Ratna dapat merelakan
Ibunya yang sudah tiada. Kejadian ini lah yang membuat Ratna dan Galih sadar
bahwa hal yang paling terpenting adalah keluarga bukan harta atau tahta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar