Ada sebuah keluarga kaya raya yang terdiri dari ayah, ibu dan putrinya seorang bernama Elin. Mereka hidup serba berkecukupan, namun dibalik itu semua Elin memiliki sifat yang sangat buruk karena pengaruh lingkungan teman-teman sekitarnya. Setiap hari Elin menghambur-hamburkan uang orang tuanya untuk berfoya-foya. Orang tuanya sudah sering menasehatinya, namun dia tidak peduli dan tidak mendengarkan kata-kata orang tuanya, dia hanya mementingkan dirinya sendiri.
Tibalah hari dimana mamanya ulang tahun, tetapi Elin tidak mengucapkan selamat atau memberi hadiah, bahkan ingat pun tidak. Di hari ulang tahun mamanya, Elin pergi dengan kekasihnya sampai larut malam. Di rumah, sang mama menunggu kedatangan Elin dengan cemas. Tiba-tiba suara pintu terbuka “Selamat malam ma” ucap Elin sambil berjalan menuju kamarnya. Sang mama sedih karena Elin sudah mulai tidak mempedulikan orang tuanya sendiri. Beliau berfikir bahwa putrinya akan memberikan kejutan untuknya. Tapi saat ditunggu sampai tengah malam, Elin bersikap acuh kepada mamanya.
Keesokan paginya sang Ibu menceritakan semuanya ke suaminya bahwa kelakuan putrinya sudah mulai berubah. Mendengar itu semua, sang ayah langsung memarahi dan menasehati Elin. Namun Elin tidak menghiraukannya, dan terjadilah pertengkaran antara Elin dengan orang tuanya. Semenjak itu Elin jadi sering pulang sampai larut malam. Dan pernah sesekali Elin pulang dalam keadaan mabok. Melihat tingkah putrinya yang semakin aneh, orang tua Elin mulaicuriga kalau Elin clubbing sama kekasihnya. “Habis darimana saja kamu?” tanya papanya dengan curiga.“Bukan urusan papa! Terserah aku mau pergi kemana!” bentak Elin. Sekilas tercium aroma rokok dari mulut Elin. “Astaga Elin… kamu habis merokok? Kamu kenapa bisa sampai seperti ini sih nak? Mama sama papa tidak pernah mengajarkan kamu untuk berbuat yang tidak baik.”
“Papa sama mama gausah urusin aku lagi! Aku bukan anak kecil lagi yang masih bisa diatur-atur! Aku bisa urus hidup aku sendiri!” Elin langsung pergi meninggalkan orang tuanya, berlari ke kamarnya dan membanting pintu. Melihat sikap putrinya yang seperti itu, orang tua Elin semakin menjadi sedih. Mereka hanya bisa bersabar dan berharap Allah membukakan pintu hati untuk Elin.
“Papa sama mama gausah urusin aku lagi! Aku bukan anak kecil lagi yang masih bisa diatur-atur! Aku bisa urus hidup aku sendiri!” Elin langsung pergi meninggalkan orang tuanya, berlari ke kamarnya dan membanting pintu. Melihat sikap putrinya yang seperti itu, orang tua Elin semakin menjadi sedih. Mereka hanya bisa bersabar dan berharap Allah membukakan pintu hati untuk Elin.
Pada suatu malam Elin pergi bersama kekasihnya seperti biasa. Saat ditengah perjalanan, kekasih Elin mengendarai motor dengan kecepatan yang sangat tinggi dan hal yang tidak terduga pun terjadi. Elin dan kekasihnya mengalami kecelakaan. Kekasihnya hanya luka ringan sedangkan Elin lukanya sangat parah, banyak darah mengalir keluar dari kepalanya. Salah satu warga yang melihat kejadian tersebut langsung menelepon ambulans dan pihak kepolisian. Karna tidak mau disalahkan atas kejadian tersebut, kekasih Elin pergi meninggalkan tempat kejadian dan tidak bertanggung jawab sama sekali.
Ambulans dan pihak kepolisian pun tiba, polisi mulai menghubungi kedua orang tua Elin untuk memberi tahu bahwa Elin mengalami kecelakaan dan keberadaannya sekarang. Mendengar itu semua orang tua Elin kaget dan sangat khawatir akan kondisi putrinya. Mereka langsung bergegas menuju Rumah Sakit dimana Elin dirawat. Sesampainya di Rumah Sakit, dokter yang menangani Elin menjelaskan kondisi Elin.
“Mengenai kondisi anak bapak dan ibu saat ini sangat kritis karna darah dari kepala putri anda terus menerus mengalir keluar. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menanganinya, namun putri anda memerlukan banyak darah agar bisa diselamatkan. Sedangkan persediaan darah disini sudah habis”.
Mendengar penjelasan dokter, sang Ibu langsung bertindak untuk mendonorkan darahnya untuk putrinya, meskipun taruhannya nyawa sendiri sang Ibu rela agar putrinya bisa diselamatkan. Sebelum operasi berlangsung, sang Ibu tahu bahwa hidupnya tidak akan bertahan lebih lama lagi. Maka dari itu beliau membuat surat untuk Elin dan menitipkannya ke suaminya.
“Mengenai kondisi anak bapak dan ibu saat ini sangat kritis karna darah dari kepala putri anda terus menerus mengalir keluar. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menanganinya, namun putri anda memerlukan banyak darah agar bisa diselamatkan. Sedangkan persediaan darah disini sudah habis”.
Mendengar penjelasan dokter, sang Ibu langsung bertindak untuk mendonorkan darahnya untuk putrinya, meskipun taruhannya nyawa sendiri sang Ibu rela agar putrinya bisa diselamatkan. Sebelum operasi berlangsung, sang Ibu tahu bahwa hidupnya tidak akan bertahan lebih lama lagi. Maka dari itu beliau membuat surat untuk Elin dan menitipkannya ke suaminya.
Beberapa jam kemudian, operasi berjalan dengan lancar. Elin dapat diselamatkan dan mulai sadarkan diri. Saat membuka matanya, Elin melihat papanya berdiri disampingnya.
“Ini dimana pa? Kenapa aku bisa ada disini? Mama kemana pa?” Tanya Elin dengan penuh kebingungan.
“Ini di rumah sakit nak, sebelumnya kamu mengalami kecelakaan dan kehilangan banyak sekali darah. Mamamu…. Mamamu telah tiada nak, dia sudah tenang di alam sana. Dia rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkanmu. Sebelum pergi mama menitipkan surat ini ke papa untuk kamu”. Jelas papanyaa sambil menyerahkan surat ke Elin.
“Ini dimana pa? Kenapa aku bisa ada disini? Mama kemana pa?” Tanya Elin dengan penuh kebingungan.
“Ini di rumah sakit nak, sebelumnya kamu mengalami kecelakaan dan kehilangan banyak sekali darah. Mamamu…. Mamamu telah tiada nak, dia sudah tenang di alam sana. Dia rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkanmu. Sebelum pergi mama menitipkan surat ini ke papa untuk kamu”. Jelas papanyaa sambil menyerahkan surat ke Elin.
Elin sangat terkejut mendengar itu semua, dia tidak percaya dengan semua hal yang sudah terjadi sekarang. Elin mulai membaca surat dari mamanya
“Elin, kamu jaga diri kamu baik-baik ya. Mama ingin mulai sekarang kamu makin peduli dengan papamu. Kamu jangan bandel lagi ya, mama tidak ingin melihat masa depan kamu hancur karena perbuataanmu sendiri. Kamu masih muda nak, jangan sampai kamu menyesalinya di kemudian hari. Ini pesan terakhir dari mama nak. Mama sayang sekali sama kamu, mama ingin yang terbaik buat kamu”.
Setelah membaca surat dari mamanya, air mata berlinang membasahi pipi Elin. Sekarang Elin sadar akan perbuatannya selama ini. Dia langsung meminta maaf kepada papanya dan sangat menyesalinya. Dia juga berjanji kepada papa dan almarhumah mamanya untuk menjadi anak yang berbakti dan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi.
“Elin, kamu jaga diri kamu baik-baik ya. Mama ingin mulai sekarang kamu makin peduli dengan papamu. Kamu jangan bandel lagi ya, mama tidak ingin melihat masa depan kamu hancur karena perbuataanmu sendiri. Kamu masih muda nak, jangan sampai kamu menyesalinya di kemudian hari. Ini pesan terakhir dari mama nak. Mama sayang sekali sama kamu, mama ingin yang terbaik buat kamu”.
Setelah membaca surat dari mamanya, air mata berlinang membasahi pipi Elin. Sekarang Elin sadar akan perbuatannya selama ini. Dia langsung meminta maaf kepada papanya dan sangat menyesalinya. Dia juga berjanji kepada papa dan almarhumah mamanya untuk menjadi anak yang berbakti dan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar