Minggu, 23 November 2014

Cinta Tak Terduga

Hari ini aku berniat untuk hunting di sebuah taman. Selain menjadi seorang mahasiswa, aku juga berprofesi sebagai seorang fotografer. Aku tinggal sendiri di sebuah kostan.
“Krinngggg.....Kriinggg.....krriiiiinnggg...”
Alarm terus berbunyi hingga membangunkanku. Aku berusaha meraihnya karena suaranya itu sangat menggangguku. Tetapi saat ingin mematikan alarm, waktu sudah menunjukan pukul 11.00. Aku salah menyetel waktunya.
“Ha? Gawat udah jam segini, gue kesiangan!!” ujarku sambil beranjak dari tempat tidur dengan panik.
Aku langsung bersiap-siap untuk berangkat. Aku berharap agar tidak kesiangan untuk mengambil gambar, karena banyak sekali model yang ingin kufoto. Selama di perjalanan aku mengalami kejadian-kejadian yang menyebalkan. Ada anak kecil yang bermain bola di taman dan bolanya mengenai wajahku. Aku terus saja berjalan tidak menghiraukan. Tidak lama setelah itu aku melihat seorang pria berjalan dengan gerak-gerik mencurigakan dibelakang seorang wanita. Aku tidak begitu mempedulikannya karena sedang terburu-buru. Tapi ternyata dugaanku benar, pria itu mencopet tas wanita itu.
“Toloonggg.... Tas saya dijambret toloooongg.” Teriak wanita itu.
Aku berusaha mengejar copet itu, tetapi saat berlari mengejarnya aku malah terjatuh. Karena sudah banyak orang yang mengejar copet itu jadi aku membiarkannya. Aku pun melanjutkan perjalanan. Saat aku berjalan melewati jembatan, ada sepasang kekasih sedang bertengkar. Aku berjalan sambil menghindarinya.  “Plak!” tangan wanita itu tidak sengaja menampar wajahku. Aku tidak peduli dan langsung pergi meninggalkan sepasang kekasih itu. Sungguh hari yang sial.
Selang tak berapa lama aku di tabrak seorang wanita yang menamparku tadi.  Wanita itu meminta maaf dan mengajakku berkenalan.
“Hei, lo cowo yang tadi kena tamparan gue ya? Sorry banget ya gue ga sengaja. Abis pas banget lo lewat si..jadi kena deh hehe.” Ujar wanita itu dengan wajah yang tersipu malu.
 Aku pun langsung terdiam sesaat, “serius nih cewe secantik ini nyapa gue?” dalam pikirku.
“Ah iya gapapa, lagian juga ga sakit ko.” Ujarku
“Tapi tetep aja gaenak. Oiya gue Rina, ngomong-ngomong nama lo siapa?” Tanya Rina sambil menjulurkan tangannya.
“Gue Ryo.”
Setelah lama berbincang dengan Rina, aku menjadi tertarik dengannya. Rina itu ternyata seorang mahasiswi kedokteran,  begitu dengar kata kedokteran aku jadi merasa ingin sakit, agar bisa disuntik sama Rina. Dibalik kesialan ini, masih ada semangat untuk menyelesaikan pemotretan hari ini. Yang membuatku semangat adalah Rina. Dia itu seperti bunga mawar di tengah-tengah taman, seperti oase di padang pasir, disaat haus dia melegakan.  Kami pun mulai berpisah dalam perjalanan.
“Oia, masa cuman sampai sini? Aku harus minta kontaknya dia” pikirku.
Akupun memanggil Rina dan meminta kontaknya..
2 minggu setelah itu...

Aku mengajak Rina berkencan, kami janjian di sebuah cafe. Aku sudah datang lebih dulu dan menunggunya di luar. Tidak lama kemudian aku melihat Rina di seberang jalan, aku melambaikan tangan kearahnya, dia melihatku dengan senyumnya yang manis. Namun itu hanya berlangsung beberapa detik saja, sebelum Rina menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya. Dia tertabrak mobil saat menyebrang jalan. Hatiku hancur saat harus melihat wanita yang kucinta meninggal didepan mata kepalaku sendiri.  Padahal aku ingin menyatakan cintaku padanya, memberikan dia kejutan. Tapi apalah daya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa mengantarnya dengan doa. Mengenangnya dengan doa. Menyapanya dengan doa. Komunikasi kita telah berakhir, tidak akan ada lagi canda tawanya, sms darinya, perhatiannya, juga kasih sayangnya. Semuanya menghilang seiring kepergiannya untuk selamanya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar