Rabu, 13 Mei 2015

Pentingnya Pendidikan Demokrasi Bagi Terlaksananya Nilai- Nilai Demokrasi di Indonesia



Negara-negara modern dewasa ini menggolongkan diri mereka ke dalam demokrasi, yaitu negara yang pemerintahanya dijalankan “ dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”,sekalipun dalam mekanisme pemerintahanya baik yang menyangkut infrastruktur politik maupun suprastruktur politik, berbeda satu dengan yang lain.
Bisa dikatakan bahwa Indonesia sangat berpotensi menjadi kiblat demokrasi di kawasan Asia, berkat keberhasilan mengembangkan dan melaksanakan sistem demokrasi. Keberhasilan Indonesia dalam bidang demokrasi bisa menjadi contoh bagi negara-negara di kawasan Asia yang hingga saat ini beberapa di antaranya masih diperintah dengan tangan besi. Indonesia juga bisa menjadi contoh, bahwa pembangunan sistem demokrasi dapat berjalan seiring dengan upaya pembangunan ekonomi.
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui  pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan. Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahap seperti prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah dan kemudian perguruan tinggi, universitas atau magang.
Kata demokrasi berasal dari bahasa Yunani yaitu Demos dan Kratein.Demos berarti rakyat, sedangkan kratein berarti kekuasaan. Bentuk kekuasaan dari, oleh, dan untuk rakyat.
Pendidikan yang demokratik adalah pendidikan yang memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anak untuk mendapatkan pendidikan di sekolah sesuai dengan kemampuannya. Pengertian demokratik di sini mencakup arti baik secara horizontal maupun vertikal.
            Maksud demokrasi secara horizontal adalah bahwa setiap anak, tidak ada kecualinya, mendapatkan kesempatan yang sama untuk menikmati pendidikan sekolah. Hal ini tercermin  pada UUD 1945 pasal 31 ayat 1 yaitu : “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran”. Sementara itu, demokrasi secara vertikal ialah bahwa setiap anak mendapat kesempatan yang sama untuk mencapai tingkat pendidikan sekolah yang setinggi-tingginya sesuai dengan kemampuannya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, demokrasi diartikan sebagai gagasan atau  pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara. Dalam pendidikan, demokrasi ditunjukkan dengan pemusatan  perhatian serta usaha pada si anak didik dalam keadaan sewajarnya (intelegensi, kesehatan, keadaan sosial, dan sebagainya). Di kalangan Taman Siswa dianut sikap tutwuri handayani, suatu sikap demokratis yang mengakui hak si anak untuk tumbuh dan berkembang menurut kodratnya.
 Pendidikan demokrasi pada hakekatnya membimbing peserta didik agar semakin dewasa dalam berdemokrasi dengan cara mensosialisasikan nilai-nilai demokrasi, agar  perilakunya mencerminkan kehidupan yang demokratis.
Dengan demikian, tampaknya demokrasi pendidikan merupakan pandangan hidup yang mengutarakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama di dalam  berlangsungnya proses pendidikan antara pendidik dan anak didik, serta juga dengan  pengelola pendidikan.
Dalam perspektif studi cultural, system pendidikan merupakan bagian yang terintegrasi dari sistem budaya, sosial, politik, dan ekonomi sebagai suatu kebutuhan. System  Negara dan pendidikan merupakan sistem yang terintegrasi dalam sistem kekuasaan. Dalam kaitan ini, terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dan demokrasi yaitu:
1. Pendidikan sebagai sarana perubahan budaya
2. Pendidikan sebagai pelaksana kekuasaan negara
3. Tujuan otonomi pendidikan yang sejalan dengan Negara demokratis
Tujuan pendidikan demokrasi adalah untuk mempersiapkan warga masyarakat  berpikir kritis dan berpikir demokratis. Namun demikian dalam Kaitan dengan pendidikan,  persoalan, yang muncul adalah mungkinkah pendidikan demokrasi dilangsungkan dalam suasana sekolah yang sangat birokratis, hirairkis-sentralistis dan elitis. Dengan demikian tampaklah bahwa demokrasi pendidikan merupakan pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama di dalam  berlangsungnya proses pendidikan antara pendidik dan anak didik, serta juga dengan pengelola  pendidikan.
Pelaksanaan demokrasi pendidikan di Indonesia pada dasarnya telah dikembangkan sedemikian rupa dengan menganut dan mengembangkan asas demokrasi dalam  pendidikannya, terutama setelah diproklamirkannya kemerdekaan, hingga sekarang. 
Peran lembaga pendidikan tinggi sangatlah penting dan strategis dalam proses  pengembangan budaya demokrasi di kalangan generasi muda. sejarah telah membuktikan  bahwa mahasiswa adalah tulang punggung gerakan reformasi. mahasiswa tercatat sebagai kekuasaan genuine dari gerakan reformasi di indonesia. ketulusan, semangat, dan keberpihakan pada nasib rakyat dan masa depan indonesia telah menjadikan mahasiswa sebagai agen perubahan di indonseia yang selalu diperhitungkan dari masa ke masa.
Pendapat saya mengenai pendidikan demokrasi harus diterapkan dari sejak dini, karena dengan kita belajar mengenai pendidikan demokrasi ini kita sebagai generasi muda dapat memahami kehidupan berdemokrasi itu seperti apa, untuk meneruskan cita-cita bangsa ke depannya.
Dengan adanya pendidikan demokrasi, generasi muda diharapkan juga memiliki kemampuan berfikir kritis, inovatif dan kreatif dalam menghadapi tantangan globalisasi sehingga merubah kondisi bangsa kearah yang lebih baik, karena generasi muda merupakan ujung tombak perjuangan bangsa untuk meneruskan perjuangan dan perkembangan bangsa sehingga menjadi lebih maju dari sebelumnya.

Selasa, 12 Mei 2015

Akibat dari Hak dan Kewajiban yang berjalan tidak seimbang

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Konsep Hak dan Kewajiban Melalui Metode Bermain Peran Pada Kelompok B di TK Muslimat

Bermain adalah dunia kerja anak usia prasekolah dan menjadi hak setiap anak untuk bermain, tanpa dibatasi usia. Malalui bermain, anak dapat memiliki berbagai manfaat bagi perkembangan, aspek ini saling menunjang satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Apabila hak dan kewajiban tidak berjalan dengan seimbang, maka akan terjadi ketimpangan karena bermain adalah aktivitas yang menyenangkan dan merupakan kebutuhan yang sudah melekat dalam diri setiap anak. Dengan demikian anak dapat belajar berbagai keterampilan dengan senang hati tanpa merasa terpaksa atau dipaksa untuk mempelajarinya.
Anak–anak merupakan pembelajaran aktif yang secara langsung mengambil pengetahuannya melalui lingkungan fisik dan sosial maupun budaya untuk membangun pemahamannya sendiri tentang lingkungan sekitarnya. Pengalaman yang diperoleh anak dari lingkungan fisik, sosial, dan budaya memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi perkembangan anak. Untuk itu peran pendidikan sangat penting diperlukan dalam pengembangan potensi anak TK, pengembangan potensi anak TK sebagai generasi penerus bangsa dapat diupayakan melalui pembangunan di berbagai bidang yang didukung oleh atmosfer masyarakat belajar.
Upaya pengembangan tersebut harus dilakukan melalui kegiatan belajar yang membuat anak senang. Dengan metode serta strategi pembelajaran seperti itu anak memiliki kesempatan untuk menggali potensi dirinya. Dewasa ini pertumbuhan anak TK tengah mendapatkan perhatian serius terutama dari pemerintahan, karena disadari benar bahwa merekalah yang akan menjadi penerus generasi yang ada sekarang. Untuk mewujudkan generasi yang tangguh dan mampu berkompetisi diperlukan upaya pengembangan anak sesuai dengan masa pertumbuhan dan perkembangannya. Agar semua aspek dapat berkembang dengan baik, maka diperlukan metode pembelajaran yang khusus untuk anak TK.
Metode pembelajaran untuk anak TK harus melibatkan adanya latihan atau pemberian pengalaman tertentu. Pemberian latihan yang sistematis dan terprogram secara baik akan sangat mempengaruhi dalam meningkatkan ketrampilan anak secara optimal, sebab otak seorang anak adalah ibarat botol kosong yang siap diisi dengan segala ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang diberikan gurunya. Paradigma lama dengan guru sebagai pusat kegiatan sudah mulai ditinggalkan, banyak hasil penelitian membuktikan bahwa para guru sudah harus mengubah paradigma dalam pengajarannya.
Dalam kegiatan pembelajaran guru perlu memberikan dorongan kepada anak didik untuk mengungkapkan kemampuannya dalam membangun gagasan. Guru berperan sebagai fasilitator dan bertanggung jawab untuk menciptakan situasi yang dapat menumbuhkan prakarsa, motivasi dan tanggung jawab anak didik untuk belajar. Di samping itu guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran hendaknya mampu mengembangkan pola interaksi antara berbagai pihak yang terlibat didalam pembelajaran dan harus pandai memotivasi anak didik untuk terbuka, kreatif, responsive, interaktif dalam kegiatan pembelajaran.
Perkembangan anak dalam belajar pada usia TK mudah menyerap segala informasi yang ada disekitarnya. TK adalah tempat belajar, anak berkembang lewat bermain disamping itu anak diajarkan mengenal aturan, disiplin, tanggung jawab dan kemandirian dengan cara bermain. Proses pembelajaran di TK hendaknya diselenggarakan secara menyenangkan, inspiratif, menantang, memotivasi anak untuk berpartisipasi aktif memberi kesempatan untuk berkreasi dan kemandirian sesuai dengan tahap perkembangan fisik dan psikis anak. Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan hasil belajar konsep hak dan kewajiban anak sangat penting. Pendidikan merupakan suatu proses sosial yang tidak dapat terjadi tanpa interaksi antar pribadi. Belajar merupakan proses pribadi dan juga proses sosial ketika anak berhubungan dengan anak lainnya dalam membangun pengertian dan pengetahuan bersama. Dalam kenyataannya ketika anak memasuki taman kanak-kanak kebanyakan diantara mereka mulai dihadapkan pada tuntutan untuk menjadi anak yang manis, penurut dan tidak rewel. Selain itu juga berbagai aturan aturan yang seharusnya belum perlu diterapkan pada anak mulai bermunculan, sehingga dapat mengurangi kebebasan dalam berkreasi dan mengekspresikan diri. Dalam kegiatan pembelajaran, anak dituntut untuk duduk, diam dan mendengarkan tanpa diberi kesempatan untuk menuangkan ide ataupun gagasan yang dapat mengembangkan keterampilan yang dimilikinya. Disini guru hanya memindahkan pengetahuan atau keterampilan dari guru kepada anak seolah-olah tugas guru memberi dan anak menerima. Anak sebagai penerima pengetahuan dan keterampilan bersifat pasif, tanpa ada upaya memperbaiki diri.
Untuk mengoptimalkan keterampilan anak Taman Kanak-kanak, pendidik yaitu guru dapat menggunakan metode-metode yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak. Guru tidak cukup hanya memberikan ceramah kepada anak dan memberitahukannya secara lisan mengenai sesuatu, karena daya konsentrasi anak usia TK masih pendek. Selain itu kegiatan pembelajaran yang hanya menggunakan metode ceramah tentu akan membosankan anak karena mereka masih sangat aktif bergerak. Sebagai upaya meningkatkan hasil belajar anak didik tentang konsep hak dan kewajiban anak didik, guru dapat menggunakan metode bermain peran. Dengan metode bermain peran diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar anak tentunya dengan menggunakan strategi, materi dan media yang menarik sehingga mudah diikuti oleh anak, karena dengan bermain peran anak akan memiliki kesempatan menjadi pribadi yang lain dari dirinya, maupun tokoh yang diinginkan.
Bermain peran dapat digunakan untuk mengajarkan masalah tanggung jawab warga negara, kehidupan sosial atau konseling dalam kelompok kecil. Metode ini memberikan kesempatan pada anak untuk mempelajari tingkah laku  manusia dan hak serta kewajiban manusia pada umumnya. Dengan bermain peran anak dapat bereksplorasi perasaan mereka, menghayati persepsi dan tingkah laku orang lain dan belajar terlibat dalam pembuat keputusan. Metode ini mengajarkan bagaimana membuat keputusan bersama dan juga mengajarkan anak untuk belajar melalui dramatisasi.
Pada umumnya anak-anak menyukai bermain peran (dramatik) mulai dari main ibu-ibuan dengan bonekanya, main sekolah-sekolahan atau menjadi ayah dan ibu. Bermain dramatik semacam ini membantu anak mencoba berbagai peran yang diamatinya.
Bermain peran mulai tampak sejalan dengan tumbuhnya kemampuan anak untuk berpikir simbiolik. Dalam bermain peran bersama teman-teman sebaya akan menjadi tonggak penting dalam perkembangan sosial anak. Melalui kegiatan bermain peran diharapkan sifat egosentrisme anak akan semakin berkurang, dan anak secara bertahap berkembang menjadi mahkluk sosial yang dapat bergaul dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Kegiatan bermain peran ditandai dengan adanya interaksi dengan orang di sekeliling anak, sehingga akhirnya anak mampu terlibat kerjasama dalam bermain. Seorang guru yang baik harus dapat menciptakan iklim belajar dan mengajar yang sehat dan menyenangkan di kelasnya sehingga bisa memberikan dorongan kepada para anak didik agar mempunyai motivasi yang tinggi dan memberikan dorongan yang positif, karenanya guru harus mengetahui metode pembelajaran yang tepat dalam perencanaan mengajarnya, supaya anak dapat memahami apa yang diberikan oleh gurunya secara seksama.
Dalam kenyataannya, proses pembelajaran di TK Muslimat masih sering ditemui adanya kecenderungan meminimalkan keterlibatan anak didik dan sebatas hanya didominasi guru. Dominasi guru yang sangat besar dalam proses pembelajaran menyebabkan kecenderungan anak didik lebih bersifat pasif, sehingga mereka lebih banyak menunggu apa yang akan disampaikan oleh guru daripada mencari dan menemukan sendiri pengetahuan, keterampilan atau sikap yang mereka butuhkan. Hal ini terlihat dari motivasi anak didik yang sangat rendah sehingga berpengaruh pada hasil belajar anak didik yang sangat minimal.
Berdasarkan pokok permasalahan tersebut, guru harus bisa menciptakan suasana di dalam pembelajaran yang nyaman serta menyenangkan, sehingga anak didik dapat aktif dalam proses belajar mengajar. Model pembelajaran yang digunakan harus sesuai dan bisa memudahkan guru dalam proses pembelajaran, diharapkan dapat meningkatkan hasil pembelajaran anak didik khususnya pada pembelajaran konsep hak dan kewajiban pada kelompok B di TK Muslimat.