Dalam beberapa kali pentas
pemilihan umum secara demokratis sejak 1999, Partai Golkar menjadi salah satu
partai yang sangat diperhitungkan. Hal ini, khususnya bisa dilihat dari fakta bahwa
Partai Golkar selalu masuk tiga besar pada setiap proses pemilihan umum.
Prestasi tersebut dicapai melalui perjuangan dan strategi-strategi para elit
partai untuk tetap menjadikan sebagai partai besar sekaligus partai yang
dominan.
Banyak pengamat memandang
bahwa, kesuksesan Partai Golkar dalam mempertahankan posisinya sebagai partai
yang dominan, tidak hanya ditopang oleh kecanggihan strategi-taktik, tapi juga
ditopang oleh kepemimpinan partai yang efektif, efisien dan kuat. Setidaknya
jika dilihat dari segi lainnya, partai ini dalam menguasai pemerintahan.
Banyaknya elit Partai Golkar yang menempati posisi penting yang berada di
pemerintahan, menjadi bukti nyata pernyataan tersebut. Kekuatan organisasi
Golkar dan kecanggihan elit partai penguasa dibuktikan dengan fakta bahwa
Partai Golkar telah dan pernah menjadi the rulling party.
Pasca lengsernya
Orde Baru yang di bawah rezim Soeharto pada tahun 1998, Golkar menghadapi
tekanan-tekanan politik yang sangat keras dari berbagai kelompok masyarakat. Bahkan,
ketika roda reformasi bergulir, isu dan tekanan terhadap pembubaran Partai
Golkar begitu kuat karena kaum reformis memasukkan Partai Golkar dalam satu
pilar dengan Soeharto dan ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).
Banyak elemen masyarakat dan
mahasiswa yang menuntut Partai Golkar dibubarkan. Partai Golkar dianggap
bertanggung jawab terhadap carut-marutnya kondisi bangsa Indonesia, terutama
kondisi ekonomi. Selain itu, Partai Golkar juga menjadi mesin politik Orde
Baru, sehingga hampir di semua sektor pemerintahan dikuasai oleh para petinggi
Golkar. Tuntutan agar Partai Golkar dibubarkan ditandai dengan maraknya aksi
dan pembakaran gedung-gedung Golkar, menjadikan Partai Golkar berada di ujung
tanduk.
Di tengah situasi banyaknya
elemen masyarakat dan mahasiswa yang menuntut Partai Golkar dibubarkan, Partai
Golkar dituntut bekerja ekstra keras dari kader-kadernya,
terlebih lagi para tokoh sentralnya, agar Golkar
tetap bertahan dan jangan sampai dibubarkan, serta tetap menjadi partai besar serta
memiliki kader yang solid. Di titik yang
paling kritis antara dibubarkan atau tidak, muncullah tokoh Golkar, yaitu Akbar
Tandjung dengan membawa jargon “Golkar Baru”. Sehingga Partai Golkar bisa diselamatkan
oleh Akbar Tandjung.
Di bawah kepemimpinan Akbar
Tandjung dengan idiom “Golkar Baru“ akhirnya Partai Golkar bisa dibawa keluar
dari kemelut. Sebagai langkah politik awal, Akbar Tandjung menjadikan Partai
Golkar lebih demokratis dan terbuka dengan dibuktikan pada penjaringan
capres-wapres di internal Partai Golkar pada pemilu 2004. Partai Golkar membuat
konvensi internal partai. Akbar Tandjung mampu mencitrakan Partai Golkar
sebagai partai baru yang tidak mempunyai relasi politik dengan Orde Baru.
Selain tetap bertahan di
panggung politik Indonesia, Partai Golkar juga bisa diterima oleh masyarakat.
Hal ini, membuka kran demokratisasi di internal Partai Golkar. Akbar Tandjung
selaku ketua umum, berupaya keras untuk menanamkan motivasi kepada para
pengurus dan kader-kader partai agar tidak patah semangat dalam menghadapi
berbagai tekanan politik. Bahkan Akbar Tandjung sering berkunjung ke
daerah-daerah dalam rangka konsolidasi Partai Golkar.
Banyak pengamat politik yang memprediksi di bawah kepemimpinan
Akbar Tandjung, Partai Golkar tidak akan mampu bertahan hidup (survive). Hal ini
berkaitan dengan anggapan masyarakat, bahwa Partai Golkar merupakan kekuatan
politik pendukung utama rezim Orde Baru. Meskipun kalah pada pemilu 1999,
dengan kepiawaian Akbar Tandjung, Partai Golkar mampu dengan cepat berintrospeksi dan berkonsolidasi
yang akhirnya memenangkan kembali pemilihan umum 2004.
Pasca kepemimpinan Akbar Tandjung di
Partai Golkar selama satu periode 1999-2004, nahkoda Partai Golkar digantikan
oleh Jusuf Kalla pada Munas VII melalui kongres Golkar di Bali 28-30 Nopember
2004.kepemimpinan Jusuf Kalla tentu sangat berbeda dengan gaya kepemimpinan
Akbar Tandjung. Akbar adalah seorang politisi tulen, sedangkan Jusuf Kalla adalah pengusaha. Keluarganya adalah pengusaha yang
tumbuh dari bawah dan hidup dengan penuh kesulitan. Darah dan adat Bugis sangat
kuat melekat dalam diri Jusuf Kalla. Dalam pergaulan dikenal hangat, berbicara
terbuka dan tidak jarang sebagaimana kebiasaan orang Sulawesi Selatan,
eksplosif.
Dalam kepemimpinan, Jusuf Kalla lebih mengutamakan
hal-hal yang sifatnya teknis, karena latar belakang yang dimilikinya adalah
pengusaha. Namun, sebagai salah satu syarat untuk menjadi pemimpin, kemampuan
yang lebih dibutuhkan adalah kemampuan untuk mensinergikan kekekuatan-kekuatan
di bawah kepemimpinannya itu supaya dapat melangkah seirama dan sejalan. Setiap
kali beliau ditanya mengenai sesuatu, beliau dengan jelas menjawab dan mengatakan tentang penyelesaiannya yang
begitu gamblang, sampai masuk ke dalam level teknis.
Gaya kepemimpinan Jusuf Kalla yang
cenderung pragmatis bukan berarti tanpa resiko. Bahkan pendahulunya Akbar
Tandjung sempat mengkritik gaya kepemimpinan Jusuf Kalla di Partai Golkar yang
disampaikan, ketika menjawab ujian doktoral di Program Pasca Sarjana
Universitas Gajah Mada.
Partai Golkar sebelum Reformasi
Sejarah Golongan Karya (Golkar) sama tuanya dengan sejarah Orde
baru. Soehartomenjadi tokoh sentral di Golkar dalam membesarkan dan
menstabilkan dinamika politik di tubuh Golkar. Golkar menjadi salah satu
jembatan yang menghubungkan Soeharto dengan kekuasaannya, dan menjadi kendaraan politik Soeharto selama
menjadi presiden. Bahkan, Golkar menjadi partai nomor satu dan selalu unggul
diantara partai-partai lain. Selama kepemimpinan Soeharto nyaris tidak
terdengar riak dalam tubuh orsospol (organisasi sosial politik) berlambang
beringin tersebut. Selama Orde Baru, Partai Golkar berhasil membangun rezim
politik yang kuat.
Golkar berawal dari Sekretariat Bersama
Golongan Karya (Sekber Golkar) yang dideklarasikan pada tanggal 20 Oktober
1964. Dalam perkembangannya, Sekber Golkar berubah menjadi Golongan Karya yang
merupakan organisasi peserta pemilu, memang patut diacungkan jempol. Hal ini
dikarenakan, banyaknya organisasi yang bergabung dalam tubuh Golkar, namun
dinamika politik yang terjadi berjalan lancar tanpa ada masalah. dan
organisasi-organisasi itu dikelompokkan menjadi tujuh Kelompok Induk Organisasi
(KINO), yaitu: Sentral Organisasi Sosialis Karyawan Indonesia (Soksi), Kelompok
Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro), Musyawarah Kekeluargaan Gotong
Royong (MKGR), Kino Profesi, Kino Ormas Hankam, GAKARI, dan Kino Gerakan
Pembangunan.
Memasuki era Orde Baru seluruh sistem
berubah, semua kekuasaan berada dalam genggaman Soeharto, yang saat itu
menjabat sebagai presiden. Selama berkuasa Soeharto menggunakan tiga pilar
kekuatan, yaitu ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) militer yang
sekarang menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia), birokrasi dan Golkar, ketiga
hal itu, menjadi penyangga kekuasaannya.
Di era Orde Baru, Soeharto telah berhasil membangun
kekuasaannya melalui peran Golkar yang memiliki dukungan massa fanatik sangat
besar, hingga partai ini mampu meraih banyak dukungan pada setiap pemilu. Ada
beberapa interpretasi, menyangkut kemenangan Golkar dalam setiap Pemilu.
sebagian orang setuju, bahwa peranan ABRI dan birokrasi sangat instrumental
dalam kemenangan Golkar.
Di Era Orde Baru, Golkar menjadi ujung
tombak dalam membangun visi Indonesia, dengan tahapan-tahapan yang jelas dan
terarah, baik melalui tahap Pelita (Pembangunan Lima Tahun), maupun PJP
(Pembangunan Jangka Panjang).
Sebenarnya, Golkar diciptakan selama Orde
Baru, karena tidak ada satupun dari partai-partai politik yang ada, bisa
mewakili kepentingan militer. Dan juga pada era Orde Baru, Golkar benar-benar dalam
kontrol Soeharto.
Partai Golkar sesudah Reformasi
Setelah Soeharto lengser dari jabatannya
sebagai presiden. merupakan titik awal reformasi yang selama ini disuarakan
oleh Mahasiswa dan segenap rakyat Indonesia. Saat itulah, Golkar mengalami
berbagai hujatan, karena jatuhnya Soeharto adalah jatuhnya Golkar juga. Dalam
sentimen publik, Golkar dianggap sebagai penopang kekuasaan Soeharto. “Terror”
terhadap Golkar bukan saja datang dalam bentuk unjuk rasa, namun terror yang
bersifat fisik mereka dapatkan, seperti di Brebes Jawa Tengah sekelompok masa
bentrok dengan kader Golkar yang sedang melakukan apel, di Tegal pembersihan
terhadap simbol-simbol Golkar pun dilakukan.
Anggapan bahwa era reformasi merupakan
runtuhnya dominasi Golkar ditandai dengan hilangnya dukungan formal dari
birokrasi dan ABRI dan hancurnya citra Orde Baru. Sebagaimana dipahami, opini
yang berkembang di masyarakat bahwa Golkar sering ditampilkan sebagai partai
yang penuh dengan KKN (Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme), alat kekuasaan, pemain
utama “yang bertanggung jawab” terhadap terjadinya masalah yang dialami bangsa,
sulit lenyap begitu saja.
Pada saat itu, muncullah gerakan reformis
yang membuat Golkar menyesuaikan diri dengan tantangan zaman. Di awal reformasi,
Partai Golkar mengalami perubahan yang signifikan, perubahan ini lebih kepada
pengembangan organisasi, dan manajemen yang disesuaikan oleh perubahan zaman.
Meskipun pada akhirnya Golkar berubah menjadi sebuah partai yang resmi pada
tahun 1999, yaitu Partai Golongan Karya. Hal ini terbukti, dalam pemilu 1999,
Golkar menduduki posisi kedua setelah PDIP, sehingga banyak kadernya yang
menduduki kursi pemerintahan di awal era reformasi.
Dalam perkembangannya, Golkar menjadi
sebuah partai yang mandiri, bergerak dalam sistem yang sudah mapan. Walaupun
banyak sekali tantangan yang dihadapi Golkar, tetapi Golkar menjadikan partai
politik yang solid, dalam menghadapi konflik, baik internal maupun eksternal. Partai Golkar mampu bangkit dari
keterpurukan rezim Orde Baru.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Heriyandi Roni,sebagaimana yang dikutip oleh Akbar Tandjung, menyebutkan bahwa
perubahan politik 1998 berimplikasi positif terhadap Golkar terutama dalam
bidang pengambilan keputusan. Perubahan signifikan dimulai pada Munaslub 1998, di mana pemilihan ketua umum dilakukan
secara demokratis. Demikian pula posisi Ketua Dewan Pembina yang di masa lalu
memiliki kekuatan yang sangat menentukan telah ditiadakan. Perubahan ini
dilakukan karena Golkar dihadapkan pada tekanan dan tuntutan masyarakat agar Golkar dibubarkan.
Salah satu terobosan yang ada di dalam
Partai Golkar adalah diadakannya konvensi untuk menjaring calon presiden dan
wakil presiden yang akan diusung dalam pemilihan umum 2004. Prakarsa ini muncul
saat Partai Golkar berada di bawah kepemimpinan Akbar Tandjung. Sekilas menilik terobosan Partai Golkar dengan diadakannya
konvensi yang dilaksanakan melalui tiga tahap. Pertama, tahap
penjaringan yang terdiri dari pengusulan bakal calon oleh DPD, Provinsi, ormas
tingkat pusat, atau perorangan dengan dukungan 500 dukungan surat penyataan. Kedua,
sosialisasi bakal calon ke minimal tujuh provinsi.
Konvensi tingkat kabupaten/kota dengan memilih 5 nama, dan selanjutnya diajukan
ke provinsi. Konvensi tingkat provinsi menetapkan 5 nama. Penapatan bakal calon
oleh DPD Provinsi. Ketiga, tahap pemilihan dan penetapan, yang terdiri dari penetapan nominasi di pusat dengan
terlebih dahulu melewati proses konvensi di tingkat provinsi.
Perjuangan Partai Golkar pada masa sesudah
era reformasi memang tidak semudah saat masih berada di era Orde Baru. Untuk
itu, siapapun pemimpin yang berhasil membawa Partai Golkar melewati masa-masa
sulit tersebut, tentu bukanlah pemimpin sembarangan. Pemimpin tersebut dapat dikatakan sebagai pemimpin yang
memiliki integritas dan komitmen yang tinggi dalam memperjuangkan dan
mengangkat nama baik Partai Golkar di kancah perpolitikan Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar