Selasa, 12 Mei 2015

Akibat dari Hak dan Kewajiban yang berjalan tidak seimbang

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Konsep Hak dan Kewajiban Melalui Metode Bermain Peran Pada Kelompok B di TK Muslimat

Bermain adalah dunia kerja anak usia prasekolah dan menjadi hak setiap anak untuk bermain, tanpa dibatasi usia. Malalui bermain, anak dapat memiliki berbagai manfaat bagi perkembangan, aspek ini saling menunjang satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Apabila hak dan kewajiban tidak berjalan dengan seimbang, maka akan terjadi ketimpangan karena bermain adalah aktivitas yang menyenangkan dan merupakan kebutuhan yang sudah melekat dalam diri setiap anak. Dengan demikian anak dapat belajar berbagai keterampilan dengan senang hati tanpa merasa terpaksa atau dipaksa untuk mempelajarinya.
Anak–anak merupakan pembelajaran aktif yang secara langsung mengambil pengetahuannya melalui lingkungan fisik dan sosial maupun budaya untuk membangun pemahamannya sendiri tentang lingkungan sekitarnya. Pengalaman yang diperoleh anak dari lingkungan fisik, sosial, dan budaya memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi perkembangan anak. Untuk itu peran pendidikan sangat penting diperlukan dalam pengembangan potensi anak TK, pengembangan potensi anak TK sebagai generasi penerus bangsa dapat diupayakan melalui pembangunan di berbagai bidang yang didukung oleh atmosfer masyarakat belajar.
Upaya pengembangan tersebut harus dilakukan melalui kegiatan belajar yang membuat anak senang. Dengan metode serta strategi pembelajaran seperti itu anak memiliki kesempatan untuk menggali potensi dirinya. Dewasa ini pertumbuhan anak TK tengah mendapatkan perhatian serius terutama dari pemerintahan, karena disadari benar bahwa merekalah yang akan menjadi penerus generasi yang ada sekarang. Untuk mewujudkan generasi yang tangguh dan mampu berkompetisi diperlukan upaya pengembangan anak sesuai dengan masa pertumbuhan dan perkembangannya. Agar semua aspek dapat berkembang dengan baik, maka diperlukan metode pembelajaran yang khusus untuk anak TK.
Metode pembelajaran untuk anak TK harus melibatkan adanya latihan atau pemberian pengalaman tertentu. Pemberian latihan yang sistematis dan terprogram secara baik akan sangat mempengaruhi dalam meningkatkan ketrampilan anak secara optimal, sebab otak seorang anak adalah ibarat botol kosong yang siap diisi dengan segala ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang diberikan gurunya. Paradigma lama dengan guru sebagai pusat kegiatan sudah mulai ditinggalkan, banyak hasil penelitian membuktikan bahwa para guru sudah harus mengubah paradigma dalam pengajarannya.
Dalam kegiatan pembelajaran guru perlu memberikan dorongan kepada anak didik untuk mengungkapkan kemampuannya dalam membangun gagasan. Guru berperan sebagai fasilitator dan bertanggung jawab untuk menciptakan situasi yang dapat menumbuhkan prakarsa, motivasi dan tanggung jawab anak didik untuk belajar. Di samping itu guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran hendaknya mampu mengembangkan pola interaksi antara berbagai pihak yang terlibat didalam pembelajaran dan harus pandai memotivasi anak didik untuk terbuka, kreatif, responsive, interaktif dalam kegiatan pembelajaran.
Perkembangan anak dalam belajar pada usia TK mudah menyerap segala informasi yang ada disekitarnya. TK adalah tempat belajar, anak berkembang lewat bermain disamping itu anak diajarkan mengenal aturan, disiplin, tanggung jawab dan kemandirian dengan cara bermain. Proses pembelajaran di TK hendaknya diselenggarakan secara menyenangkan, inspiratif, menantang, memotivasi anak untuk berpartisipasi aktif memberi kesempatan untuk berkreasi dan kemandirian sesuai dengan tahap perkembangan fisik dan psikis anak. Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan hasil belajar konsep hak dan kewajiban anak sangat penting. Pendidikan merupakan suatu proses sosial yang tidak dapat terjadi tanpa interaksi antar pribadi. Belajar merupakan proses pribadi dan juga proses sosial ketika anak berhubungan dengan anak lainnya dalam membangun pengertian dan pengetahuan bersama. Dalam kenyataannya ketika anak memasuki taman kanak-kanak kebanyakan diantara mereka mulai dihadapkan pada tuntutan untuk menjadi anak yang manis, penurut dan tidak rewel. Selain itu juga berbagai aturan aturan yang seharusnya belum perlu diterapkan pada anak mulai bermunculan, sehingga dapat mengurangi kebebasan dalam berkreasi dan mengekspresikan diri. Dalam kegiatan pembelajaran, anak dituntut untuk duduk, diam dan mendengarkan tanpa diberi kesempatan untuk menuangkan ide ataupun gagasan yang dapat mengembangkan keterampilan yang dimilikinya. Disini guru hanya memindahkan pengetahuan atau keterampilan dari guru kepada anak seolah-olah tugas guru memberi dan anak menerima. Anak sebagai penerima pengetahuan dan keterampilan bersifat pasif, tanpa ada upaya memperbaiki diri.
Untuk mengoptimalkan keterampilan anak Taman Kanak-kanak, pendidik yaitu guru dapat menggunakan metode-metode yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak. Guru tidak cukup hanya memberikan ceramah kepada anak dan memberitahukannya secara lisan mengenai sesuatu, karena daya konsentrasi anak usia TK masih pendek. Selain itu kegiatan pembelajaran yang hanya menggunakan metode ceramah tentu akan membosankan anak karena mereka masih sangat aktif bergerak. Sebagai upaya meningkatkan hasil belajar anak didik tentang konsep hak dan kewajiban anak didik, guru dapat menggunakan metode bermain peran. Dengan metode bermain peran diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar anak tentunya dengan menggunakan strategi, materi dan media yang menarik sehingga mudah diikuti oleh anak, karena dengan bermain peran anak akan memiliki kesempatan menjadi pribadi yang lain dari dirinya, maupun tokoh yang diinginkan.
Bermain peran dapat digunakan untuk mengajarkan masalah tanggung jawab warga negara, kehidupan sosial atau konseling dalam kelompok kecil. Metode ini memberikan kesempatan pada anak untuk mempelajari tingkah laku  manusia dan hak serta kewajiban manusia pada umumnya. Dengan bermain peran anak dapat bereksplorasi perasaan mereka, menghayati persepsi dan tingkah laku orang lain dan belajar terlibat dalam pembuat keputusan. Metode ini mengajarkan bagaimana membuat keputusan bersama dan juga mengajarkan anak untuk belajar melalui dramatisasi.
Pada umumnya anak-anak menyukai bermain peran (dramatik) mulai dari main ibu-ibuan dengan bonekanya, main sekolah-sekolahan atau menjadi ayah dan ibu. Bermain dramatik semacam ini membantu anak mencoba berbagai peran yang diamatinya.
Bermain peran mulai tampak sejalan dengan tumbuhnya kemampuan anak untuk berpikir simbiolik. Dalam bermain peran bersama teman-teman sebaya akan menjadi tonggak penting dalam perkembangan sosial anak. Melalui kegiatan bermain peran diharapkan sifat egosentrisme anak akan semakin berkurang, dan anak secara bertahap berkembang menjadi mahkluk sosial yang dapat bergaul dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Kegiatan bermain peran ditandai dengan adanya interaksi dengan orang di sekeliling anak, sehingga akhirnya anak mampu terlibat kerjasama dalam bermain. Seorang guru yang baik harus dapat menciptakan iklim belajar dan mengajar yang sehat dan menyenangkan di kelasnya sehingga bisa memberikan dorongan kepada para anak didik agar mempunyai motivasi yang tinggi dan memberikan dorongan yang positif, karenanya guru harus mengetahui metode pembelajaran yang tepat dalam perencanaan mengajarnya, supaya anak dapat memahami apa yang diberikan oleh gurunya secara seksama.
Dalam kenyataannya, proses pembelajaran di TK Muslimat masih sering ditemui adanya kecenderungan meminimalkan keterlibatan anak didik dan sebatas hanya didominasi guru. Dominasi guru yang sangat besar dalam proses pembelajaran menyebabkan kecenderungan anak didik lebih bersifat pasif, sehingga mereka lebih banyak menunggu apa yang akan disampaikan oleh guru daripada mencari dan menemukan sendiri pengetahuan, keterampilan atau sikap yang mereka butuhkan. Hal ini terlihat dari motivasi anak didik yang sangat rendah sehingga berpengaruh pada hasil belajar anak didik yang sangat minimal.
Berdasarkan pokok permasalahan tersebut, guru harus bisa menciptakan suasana di dalam pembelajaran yang nyaman serta menyenangkan, sehingga anak didik dapat aktif dalam proses belajar mengajar. Model pembelajaran yang digunakan harus sesuai dan bisa memudahkan guru dalam proses pembelajaran, diharapkan dapat meningkatkan hasil pembelajaran anak didik khususnya pada pembelajaran konsep hak dan kewajiban pada kelompok B di TK Muslimat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar